Mother&Baby Indonesia
Fenomena Kembar Siam (3): Haruskah Dipisahkan?

Fenomena Kembar Siam (3): Haruskah Dipisahkan?

Menangani bayi kembar siam, tentu membutuhkan perhatian dan energi ekstra. Inilah yang diakui dr. Agus Harianto Sp.A, Ketua Tim Kembar Siam Terpadu RSUD dr. Soetomo Surabaya. Selain dempet (menempel) di sejumlah bagian tubuh, seperti dada, perut atau punggung, bayi kembar siam seringkali memiliki kelainan bawaan dalam tubuh mereka (incomplete conjoined twins). Seperti bayi Nurul dan Rahma, asal Banyuwangi yang bulan depan akan menjalani operasi pemisahan. Bayi Nurul, matanya normal, namun ada kelainan jantung. Sementara bayi Rahma, buta sejak lahir, namun jantungnya sehat.

 

Menurut dr Agus, bayi kembar siam harus memenuhi sejumlah syarat, sebelum masuk ke meja operasi. “Sebelum dioperasi, berat badan kedua bayi harus sudah mencapai 10 kilogram. Tim dokter juga harus melakukan echocardiography atau menentukan struktur anatomi dan pembuluh darah jantung bayi kembar siam. Kami tidak mungkin melakukan operasi pemisahan, tanpa melewati prosedur pemeriksaan struktur anatomi bayi,” ujar dr. Agus.



 



Dalam kondisi tertentu, bayi kembar tidak bisa dipisahkan. “Ada pasien kembar siam dari Mataram yang lahir tahun 2005. Kedua bayi itu jantungnya berhubungan, sehingga kalau kami pisahkan berisiko tinggi menyebabkan kematian pada kedua bayi. Akhirnya, mereka bisa bertahan hidup selama 2 tahun tanpa dipisahkan,” lanjutnya. (Nurul Rahmawati (kontributor Surabaya)/SR/Dok.Freedigitalphotos)

Baca: Fenomena Kembar Siam (4): Kisah Kembar Siam dari Seluruh Dunia



Tags: kembar siam,   kembar










Cover Mei-Juni-Juli 2020