Mother&Baby Indonesia
Kisah Bayi Terlantar (3): Bayi Terlantar Punya Masa Depan

Kisah Bayi Terlantar (3): Bayi Terlantar Punya Masa Depan

Muhammad Iam bukan satu-satunya bayi yang ditelantarkan orangtuanya. Ada banyak kasus dimana orangtua mengambil keputusan untuk menitipkan bahkan membuang anak mereka. Panti asuhan atau bina sosial kemudian menjadi harapan para orangtua agar anak-anak mereka mendapatkan kehidupan yang layak dan kasih sayang yang tidak bisa diberikan para orangtua. Menurut Siti Murtofinah, Kepala Seksi Keperawatan Panti Sosial Asuhan Tunas Bangsa Dinas Sosial Jakarta, ada berapa alasan para orangtua meninggalkan anaknya.

 

"Orangtua yang meninggalkan anaknya biasanya merasa tidak sanggup secara finansial untuk membesarkan anak. Beberapa orangtua beralasan, biaya kesehatan dan pendidikan yang dikeluarkan terlalu besar sementara hal tersebut tidak didukung oleh jumlah penghasilan para orangtua, " kata Siti.



 

Alasan lain adalah anak diterlantarkan karena kelahirannya tidak diinginkan. Misalnya anak tersebut hasil hubungan di luar nikah dan dianggap ‘aib’ oleh keluarganya, atau anak yang dilahirkan akibat kekerasan seksual. Ada pula anak yang sengaja dititipkan oleh orangtuanya di panti sosial karena alasan lain, misalnya orangtua yang cacat fisik atau mental, sedang sakit, atau bekerja di tempat jauh. Biasanya, orangtua yang menitipkan anaknya secara sadar akan mengambil anaknya ketika situasi mereka sudah kembali normal.

 

Punya Masa Depan

Pengurus Panti Asuhan tunas Bangsa memperlakukan anak-anak itu dengan baik. Mereka diberi kasih sayang, mendapat pakaian layak, makanan bergizi, konsultasi kesehatan dan psikologis, juga dididik sesuai dengan umur mereka.



 

“Sudah jadi kewajiban negara untuk membiayai dan melindungi anak-anak terlantar. Mereka juga aset masa depan yang berharga. Maka tidaklah mudah bila ada orangtua yang hendak mengadopsi salah satu dari mereka. Calon orangtua adopsi harus melalui pengawasan dan tes-tes tertentu demi tumbuh kembang Si Anak. Kasus bayi Iam adalah salah satunya, Iam harus melewati masa aman untuk pada akhirnya ia dapat diadopsi oleh sebuah keluarga,” ungkap Siti.

 

Kebanyakan orangtua adopsi lebih memilih anak-anak dengan usia di bawah 2 tahun, dengan alasan para orangtua adopsi dapat menganggap anak tersebut anak kandung mereka sendiri. Sedangkan anak-anak terlantar yang mulai besar dan tidak memiliki orangtua adopsi selanjutnya tetap mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak di Dinas Sosial Anak dan Remaja hingga berusia 18 tahun.

 

Panti asuhan membutuhkan uluran tangan relawan untuk mengasuh anak-anak itu. Mereka juga membutuhkan bantuan sandang, pangan, dan tentu juga materi. Semua tidak akan sia-sia sebab mereka tidak akan membiarkan anak-anak bangsa ini tanpa masa depan. (Gita/SR/Dok.M&B)
 



Tags: anak terlantar,   panti asuhan,   anak adopsi,   muhammad iam,   panti asuhan tunas bangsa










Cover Mei-Juni-Juli 2020