Mother&Baby Indonesia
Seks Aman Selama Kehamilan

Seks Aman Selama Kehamilan

Seks selama kehamilan dapat meningkatkan mood dan menenangkan pikiran bumil. Namun, memang ada kondisi tertentu yang menyebabkan bumil  dilarang melakukan hubungan intim. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang seks selama kehamilan.

1. Risiko
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologist, kenyamanan ibu dan keinginan untuk bercinta harus dipastikan sebelum memulai hubungan seks. Pada kehamilan berisiko rendah, seks bisa dilakukan asalkan tetap memerhatikan posisi dan aksi seksual. Sementara pada kehamilan tinggi risiko, dokter mungkin menyarankan untuk membatasi atau menghindari seks.  Kehamilan berisiko tinggi adalah kehamilan dengan perdarahan vagina, pecah ketuban, pembukaan dini leher rahim, pecah plasenta, wanita dengan riwayat sulit hamil, ataupun memiliki riwayat melahirkan prematur.

2. Trimester Kehamilan
Kebanyakan bumil merasakan tubuhnya lebih sensitif, mual, dan bengkak di trimester pertama kehamilan. Karena kondisi itu kegiatan seks pun menjadi tidak nyaman dan dorongan seksual menurun. Pada trimester kedua, dorongan seksual biasanya sudah kembali. Sementara itu, pertambahan berat badan di trimester ketiga kerap membuat ketidaknyamanan, walaupun seks masih bisa dilakukan dengan memerhatikan posisi tertentu. Menurut Nemours Foundation, terkadang seks dilarang dilakukan di minggu-minggu terakhir kehamilan, karena sperma mengandung zat yang bisa merangsang kontraksi.





3. Miskonsepsi
Seks tidak akan menyebabkan keguguran spontan pada kehamilan yang sehat. Tindakan fisik penetrasi juga dianggap tidak membahayakan janin, karena janin dilindungi kantung ketuban dan lendir dalam rahim. Orgasme dapat menyebabkan reaksi yang mirip dengan kontraksi tetapi tidak berhubungan dengan kelahiran prematur. (Gita/SR/Dok.M&B)



Tags: seks kehamilan,   kehamilan,   morning sickness,   trimester kehamilan,   seks aman saat hamil








Cover Maret 2020