Mother&Baby Indonesia
Cacat Lahir akibat BPA

Cacat Lahir akibat BPA

Anda perlu selalu cermat dalam memilih perlengkapan bayi dan ibu hamil. Coba cek komposisi bahan penyusunnya, apakah aman atau tidak. Seperti bisphenol A (BPA), salah satu jenis bahan kimia yang sering dipakai dalam pembuatan barang-barang plastik. Pasalnya, para peneliti melarang penggunaan bahan kimia ini untuk perlengkapan bayi dan ibu hamil, karena dianggap membahayakan kesehatan anak di masa depan. Baru-baru ini, para peneliti dari University of Nice, Perancis, mengeluarkan fakta terbaru tentang paparan BPA berlebih saat hamil yang dapat menyebabkan cacat organ reproduksi pada kelahiran bayi laki-laki. Bahan kimia ini diklaim dapat memengaruhi hormon testosteron pada bayi laki-laki dan menyebabkan posisi testis tidak pada tempat normalnya, yang dikenal dengan gangguan kriptorkismus.

 


Menurut ketua tim peneliti Patrick Fenichel, kriptorkismus terjadi pada 2-5 persen bayi laki-laki baru lahir. Biasanya, posisi testis akan turun dengan sendirinya setelah 6 bulan kelahiran. Namun bila gangguan ini tidak segera terdeteksi, risiko anak mengalami infertilitas dan kanker testis kelak, akan semakin besar.



 


Penelitian ini melibatkan 180 newborn laki-laki. Sebanyak 52 bayi tersebut lahir dengan kriptorkismus (26 bayi di antaranya, baru mengidap gangguan ini setelah berusia 3 bulan), dan 128 bayi lain yang normal. Para peneliti kemudian mengambil sel darah tali pusat untuk mengukur kadar insulin-like peptide 3 (INSL3) dengan uji imunologi untuk memastikan kadar BPA dalam darah.



 


Hasilnya, para bayi dengan kriptorkismus memiliki tingkat INSL3 lebih rendah dibandingkan bayi yang terlahir normal. Profesor Fenichel kemudian menyarankan para ibu untuk menghindari penggunaan kemasan minuman atau makanan instan, baik kaleng maupun plastik, juga bahan dengan kadar BPA tinggi, seperti lapisan pencegah karang gigi yang biasa digunakan para dokter gigi. (Gita/DMO/Dok. M&B)



Tags: cacat lahir,   kanker testis,   infertilitas,   bpa,   plastik,   insulin,   kelahiran cacat,   bahan kimia penyeb