Mother&Baby Indonesia
Jika Anak Terbiasa Membenturkan Kepala

Jika Anak Terbiasa Membenturkan Kepala

Seberapa sering Anda melihat Si Kecil menggoyang-goyangkan kepalanya kuat-kuat? Apakah Si Kecil terobsesi menjadi musisi rock? Tunggu, jangan terburu-buru membuat kesimpulan.

 

Ternyata, hampir 20 persen batita melalui masa di mana mereka suka melakukan aksi headbanging ini. Seperti halnya kebiasaan mengisap jari atau menggoyangkan badan, gerakan tubuh yang berulang-ulang memang diyakini dapat melepaskan ketegangan mereka, termasuk membenturkan kepala. Aksi ini tentu sangat berbahaya, mengingat risiko terbentur benda keras tentu akan lebih besar. Faktanya, anak laki-laki berisiko 4 kali lebih besar terhadap kebiasaan ini dibandingkan anak perempuan.



 

Aksi ini dapat juga dijadikan 'alat' untuk menarik perhatian Anda. Mungkin Anda pun takut melihat Si Kecil menggoyang-goyangkan kepala dengan keras. Lalu, bagaimana?

 



Dokter Christopher Green, penulis Toddler Taming mengatakan, “Aksi menggoyang-goyangkan kepala ini akan berhenti dengan sendirinya. Yang perlu Anda lakukan adalah mengalihkan perhatiannya. Jika ia belum mau berhenti, acuhkan saja,” ungkapnya.

 

Hal yang perlu Anda khawatirkan justru ketika di usia 18 bulan, batita Anda belum bisa mengikuti arah pandangan Anda, melihat pada arah atau benda yang Anda tunjuk, ataupun mengikuti permainan imajinasi, karena ini bisa menjadi tanda-tanda autis. Konsultasikan kepada dokter bila Anda khawatir dengan kebiasaan buruknya ini. Jangan sampai kebiasaan ini tidak kunjung hilang di saat usianya sudah menginjak 3 tahun. (Aulia/DMO)



Tags: membenturkan kepala,   kebiasaan anak,   toddler taming,   aksi headbanging anak