Mother&Baby Indonesia
Mengatasi Baby Blues

Mengatasi Baby Blues

Tak hanya kaum ibu yang dapat mengalami depresi pasca-persalinan atau baby blues ini, tapi juga kaum ayah. Menurut studi oleh UK Medical Research Council (MRC) dan University College London, terdapat gejala depresi pada ayah dan ibu sejak awal kelahiran sampai usia Si Kecil kelak menginjak 12 tahun. Mereka menemukan hal ini terjadi pada 21 persen ayah, dan pada 39 persen ibu.

 

Risiko depresi tertinggi ditemukan pada tahun pertama setelah kelahiran Si Kecil. Kurang tidur, tanggung jawab yang bertambah, dan kekhawatiran tentang uang, semua merupakan faktor yang juga memicu stres Si Ayah. Walaupun ibu dapat mengalami gejala yang sama, namun ayah cenderung lebih terganggu oleh situasi ini.



 

Menurut Yayasan Kesehatan Mental MIND, para ayah yang mengalami baby blues ternyata lebih rentan mempunyai anak dengan masalah emosi dan tingkah laku serupa.



 

Berikut tip M&B agar para ayah dapat mengatasi dan terbebas dari sindrom ini.
1.Jangan berlama-lama tenggelam dalam perasaan negatif. Berhentilah menjadi pesimis, dan mulailah berusaha.
2.Luangkan waktu Anda untuk berbincang dengan teman 'seperjuangan'. Ceritakan kekhawatiran Anda menjalani peran ayah. Kemunginan besar, teman Anda pernah mengalami ketakutan yang sama. Tak perlu malu untuk saling berbagi rasa dengan sesama ayah, daripada nantinya, Anda pun harus berkonsultasi pada psikolog.
3.Diskusikan segala sesuatu yang Anda pikirkan soal anak kepada pasangan. Keterbukaan Anda kepada istri akan mengubah pandangan Anda dalam menjalani peran baru sebagai ayah dan tidak menganggapnya sebagai beban.
4.Jangan pernah menganggap tugas mengurus anak adalah 'tugas perempuan'. Anda bisa kok menyuapi anak dan tetap terlihat maskulin.
5.Tambah pengetahuan parenting Anda, sehingga Anda akan semakin percaya diri. (Aulia/doc.M&B)



Tags: ayah baby blues,   pasca-persalinan,   kelahiran anak,   ayah depresi,