Mother&Baby Indonesia
Hindari Trauma Perpisahan Orangtua

Hindari Trauma Perpisahan Orangtua

Setelah gagal mencoba berbagai upaya untuk berdamai, akhirnya Anda memutuskan untuk hidup berpisah dengan pasangan. Mungkin Anda sudah siap menghadapi perpisahan ini, tapi bagaimana efeknya terhadap Si Kecil yang masih balita?


Anak usia 2-6 tahun, tentu belum mengerti tentang persoalan yang Anda alami dengan pasangan. Tahap perkembangannya masih dalam fase egosentris-- ia masih memfokuskan segala hal hanya pada dirinya sendiri. Reaksinya terhadap perpisahan orangtua pun bisa saja dikaitkan dengan dirinya sendiri. Mungkin ia akan berpikir, “Apakah orangtua berpisah karena saya nakal?” Perasaan ini akan lebih tertanam jika tanpa sengaja Anda atau orang lain mengancamnya dengan ungkapan, “Kalau kamu nakal, ditinggal saja, ya!”


Pastikan Anda dan pasangan tidak memberikan komentar negatif tentang dirinya. Di masa perpisahan ini, pujian dan penghargaan menjadi sangat penting bagi Si Kecil. Seburuk apa pun kondisi perpisahan ini, sebaiknya Anda dan pasangan sepakat untuk menjaga perasaan anak.




Biasanya sebelum terjadi perpisahan, pasangan sering bertengkar, saling menyalahkan, dan bersikap kasar satu sama lain. Usahakan pertengkaran tersebut tidak disaksikan oleh Si Kecil. Ciptakan juga suasana damai sebelum terjadi perpisahan. Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa konflik bisa terjadi, tetapi akhirnya setelah terjadi kesepakatan, masing-masing akan berdamai kembali.




Walaupun mungkin ini tidak sepenuhnya baik bagi Anda, tetapi sebaiknya, buatlah seolah-olah Anda sudah berdamai bersama pasangan . Dengan demikian, perpisahan ini bisa dilalui dengan baik dan tidak meninggalkan trauma bagi Si Kecil. (Aulia/dok.freedigitalphotos)



Tags: trauma,   parenting,   perpisahan










Cover Mei-Juni-Juli 2020