Mother&Baby Indonesia
Waspadai Shaken Baby Syndrome

Waspadai Shaken Baby Syndrome

Mungkin sebagian dari Anda masih asing dengan jenis gangguan medis shaken baby syndrome (SBS). Diketahui, SBS rawan terjadi pada Si Kecil. Sekitar 25 persen bayi yang berusia 0-12 bulan diketahui rentan mengalami SBS. Ini merupakan trauma kepala akibat perlakuan yang salah terhadap anak.

 

Trauma kepala tersebut biasanya disebabkan oleh benturan langsung yang terjadi di kepala atau mengguncang-guncangkan badan Si Kecil, sehingga terjadi gerakan ke arah depan dan belakang pada kepala Si Kecil. Gerakan tersebut dapat menimbulkan cedera pada bagian jaringan otaknya.



 

Gejala bayi yang terkena SBS pun berbeda-beda, mulai dari ringan hingga berat. Gejala khusus yang menonjol biasanya ada perdarahan retina, patah tulang berganda tulang kepala, dan perdarahan sub-dural atau otak. Gangguan ini tida bisa dianggap ringan, karena separuh dari seluruh korban SBS biasanya meninggal atau mengalami kecacatan, kebutaan, kelumpuhan otak besar (cerebral palsy), dan gangguan kognitif.



 

Bila diketahui sejak dini, hal ini bisa diatasi. Dengan melakukan intervensi bedah saraf komprehensif, SBS bisa disembuhkan. Sayangnya, kasus perlakuan salah pada anak biasanya terlambat terdeteksi, karena pelaku biasanya masih kerabat atau orang terdekat korban. (Aulia/DMO/Dok. M&B)



Tags: shaken baby syndrome,   bayi,   kekerasan










Cover April 2020