Para peneliti Erasmus Medical Center di Belanda, baru-baru ini mengumumkan hasil penelitian mereka tentang efek percepatan pertumbuhan yang diberikan kepada bayi prematur, agar tetap bertahan hidup.
Menurut Liesbeth Duijts, MD, PhD, ketua peneliti, percepatan pertumbuhan yang diberikan kedokteran pada bayi prematur, menunjukkan tingginya risiko gejala asma saat anak menginjak usia prasekolah.
Penelitian ini melibatkan 5.125 anak usia prasekolah dan sekolah, yang lahir prematur dan telah melalui masa percepatan pertumbuhan.
Dari data yang diperoleh, kebanyakan dari mereka sering mengalami gangguan pernapasan di usia 3-4 tahun. Terlebih lagi, menurut Liesbeth, anak-anak prematur yang memiliki orang tua dengan riwayat alergi, berisiko lebih tinggi dua kali lipat untuk terserang asma.
“Paru-paru merupakan organ yang mendapat pengaruh buruk dalam akselerasi pertumbuhan. Saat organ dipaksa untuk bekerja keras, organ akan lebih mudah terinfeksi. Berdasarkan hasil ini, kami berencana untuk terus memperbesar penelitian tentang sebab musabab asma,” tambah Liesbeth. (anggita/m&b/dok.visualphotos)









