Hydrocephalus sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu dan diketahui sebagai salah satu penyebab epilepsi.
Hydrocephalus seperti yang dilansir www.medicinenet.com, merupakan akumulasi cairan serebro spinal yang berasal di wilayah otak yang terhambat.
Biasanya hambatan tersebut diakibatkan oleh adanya infeksi, trauma otak atau bisa juga karena kelainan bawaan.
Akibat terhambatnya saluran kerja di otak, cairan serebro spinal pun mengisi ruang kepala yang menyebabkan pembengkakan pada kepala. Para ahli memperkirakan sekitar 1 dari 500 anak di dunia, didiagnosa mengidap hydrocephalus.
Hydrocephalus juga bisa menyerang orang dewasa, dan tercatat sebanyak 1 dari 1.000 orang dewasa dinyatakan mengidap hydrocephalus. Di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI 2006, sebanyak 20 bayi baru lahir menderita hydrocephalus dari setiap 10.000 kelahiran.
Gejala hydrocephalus pada anak dan dewasa memiliki perbedaan. Apa saja gejalanya?
-
Bayi dan balita. Tanda yang paling terlihat adalah pembesaran kepala yang abnormal. Gejala hydrocephalus pada bayi yaitu muntah, mengantuk, gelisah, tidak mampu melihat ke atas, dan seizure (kejang epilepsi). Atas alasan ini, dokter pun sering memeriksa dan mengukur kepala bayi dengan hati-hati.
-
Anak berusia lebih dari enam tahun dan dewasa. Hydrocephalus pada anak yang sudah lebih tua serta dewasa, tidak menyebabkan pembesaran kepala karena tempurung kepala yang sudah keras (padat). Gejala yang sering terjadi antara lain ; sering sakit kepala, mudah mengantuk, mual, muntah, pandangan sering kabur, keseimbangan tubuh menurun, hingga kesulitan berjalan dan berbicara, serta kesulitan berkonsentrasi.
Hydrocephalus termasuk penyakit yang sulit disembuhkan karena perlu perawatan intensif. Pengobatan yang sering dilakukan adalah tindakan operasi dan memasang pipa atau selang plastik di dalam sistem ventrikel otak untuk melancarkan aliran cairan tersebut. Penderita hydrocephalus bisa hidup normal meskipun mengalami keterbatasan dalam bersosialisasi. Hydrocephalus juga bisa menyebabkan kematian bila tidak segera ditindaklanjuti. (anggita/m&b/dok. visualphotos)
