
Epilepsi sering kali dipandang negatif oleh banyak orang dan menyebabkan si penderita mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Kebanyakan orang berpikir, epilepsi merupakan penyakit keturunan yang menimpa anak (0 – 18 tahun) atau sering dianggap penyakit dengan unsur klenik seperti kesurupan.
Menurut Dr. Lyna Soertidewi, SpS (K) M. Epid dari Departemen Ilmu Penyakit Saraf UI, epilepsi bisa menghampiri siapa saja tanpa memandang usia. Orang lanjut usia pun bisa terkena epilepsi. Epilepsi terjadi saat gelombang otak menghasilkan listrik berlebih selama kurang lebih tiga menit.
Penyebab epilepsi dibagi dalam tiga kelompok yaitu; simtomatik (cedera otak akibat benturan, kepala bayi terjepit saat persalinan, infeksi otak seperti meningitis, tumor ataupun stroke), idiopatik (tidak diketahui), dan kriptogenik (sedang dalam penelitian). Epilepsi juga bukan penyakit keturunan maupun menular. Sebanyak 50 juta orang tercatat WHO mengidap epilepsi dan sekitar 4 juta orang berasal dari Indonesia. Penderita epilepsi, menurut Lyna, bisa disembuhkan dengan obat, terapi, dan bantuan orang terdekat.
Epilepsi kerap terlihat menakutkan saat si penderita mengalami jatuh pingsan dan kejang (bangkitan). Tetapi sebenarnya, epilepsi memiliki gejala selain kejang seperti; penderita tiba-tiba bengong dan tidak bisa menangkap apa pun yang dilihatnya, dan organ tubuh bergerak-gerak tanpa bisa dihentikan secara sadar.
Bila dilihat keseluruhan, Dr. Hardiono Pusponegoro, SpA(K) dari Departemen Ilmu Penyakit Anak UI, mengatakan anak dengan epilepsi tidak mengalami masalah dalam perkembangan otak mereka, dalam arti tak mengalami regradasi kecerdasan. Hanya saja efek dari listrik yang dihasilkan otak secara berlebih mampu membuat konsentrasi anak terganggu. Terlebih lagi anak epilepsi bangkitan, dimana gerak tubuh tak dapat dikontrol secara sadar mampu melukai tubuh itu sendiri.









