Balita - Perawatan Balita / 17 Juli 2017 / Redaksi

Waspadai Penyakit Disentri pada Anak

Waspadai Penyakit Disentri pada Anak

Siapa yang sedih dan bingung melihat buah hati sakit? Ya, setiap orang tua pasti panik mendapati Si Kecil terserang penyakit. Ada banyak kuman penyakit yang mengintai anak. Salah satu yang perlu kita waspadai adalah disentri. Disentri merupakan infeksi yang terjadi di usus, terutama usus besar, yang bisa menyebabkan diare yang parah sehingga terdapat lendir dan darah di feses. Umumnya, disentri terjadi di negara beriklim tropis, termasuk Indonesia.

 

Penyebab Disentri
Ada dua jenis disentri yaitu disentri amoeba yang disebabkan Entamoeba histolytica dan banyak ditemukan di daerah tropis yang buruk sanitasinya. Disentri basiler atau sigelosis disebabkan bakteri dari spesies Shigella yang muncul karena kebersihan tidak terjaga atau makanan dan minuman yang tercemar. WHO memperkirakan ada 120 juta kasus disentri basiler di dunia dan paling banyak terjadi pada anak di bawah 5 tahun.

 

Gejala Disentri
Gejala pada disentri adalah perut terasa sakit dan nyeri, demam hingga menggigil, mual dan muntah, diare disertai darah dan lendir, kelelahan, konstipasi, nafsu makan berkurang, dan berat badan menurun. Namun, gejala pada disentri basiler umumnya lebih ringan, bahkan tak perlu ke dokter dan bisa pulih dalam beberapa hari. Meski begitu, disentri perlu diwaspadai karena bisa menyebabkan infeksi ke organ-organ lain, seperti hati, salah satunya.

 

Nah, Moms Ingin mengetahui penanganan disentri lebih lanjut? Yuk, baca majalah Mother&Baby edisi Juli 2017! (Risia/Seva/HH/Dok. freepik)

#disentri #anak #penyakit #perut
loading...
loading...




RELATED ARTICLE

5 Trik Jitu Mengajak Anak ke Salon untuk Pertama Kali

Moms, Jangan Lakukan 5 Hal Ini pada Anak Gemuk!

Cara Tepat Memilih Sikat dan Pasta Gigi untuk Anak


OTHER ARTICLES

Milna 1st Bite Day 2017: Nutrisi Terbaik Untuk Si Kecil

Yuk, Ajak Anak Jadi Koki Cilik di 4 Tempat Ini!

Vaksin Rubella Gratis untuk Anak Diberikan Agustus 2017

Jangan Takut! Anak Prematur Bisa Berprestasi di Sekolah

5 Cara Efektif Menghentikan Penggunaan Dot pada Anak